Event

PROGRAM PELATIHAN MANAGEMENT DAYCARE


​Di awal tahun 2011, Bintang Waktu Daycare bergabung dengan salah satu waralaba TK & daycare. Keputusan tersebut kami ambil karena merasakan sulitnya memulai suatu usaha PG/TK & daycare, karena keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan jaringan. Mau mulai dari mana? Mana yang harus dimulai lebih dulu? Begitu banyak yang harus dikerjakan.
Tetapi ternyata keputusan mengambil bentuk kerja sama waralaba PG/TK & daycare tidak mampu memberikan kepuasan kepada kami. Ada hal-hal yang berbenturan dengan idealisme kami dan tidak boleh dikutak-katik. Sistem waralaba memiliki kendala bahwa mitra waralaba harus menduplikasi semua sistem dari A-Z, sehingga memiliki ruang terbatas untuk berimprovisasi dan pengembangan. Selain itu sistem waralaba biasanya memiliki tuntutan royalty fee dan batas waktu kerja sama yang terbatas, biasanya 5 tahun

Pada saat itu, ingin rasanya memiliki Mentor yang mampu mendampingi kami mengembangkan daycare tetapi tetap dengan cara kami. Tapi ternyata layanan seperti itu belum ada. Kami hanya bisa trial & error saja, sehingga membuat perkembangan daycare kami berjalan lambat

Sampai akhirnya di tahun 2014, mulai lah berdatangan calon-calon pelaku bisnis daycare yang meminta kami untuk mengembangkan franchise Bintang Waktu. Tetapi berdasarkan pengalaman kami, tentu saja hal itu tidak kami sarankan. Akhirnya kami sepakat untuk membuat PROGRAM PELATIHAN MANAGEMENT DAYCARE yang akan membahas bagaimana merencanakan, memulai dan menjalankan suatu bisnis daycare

Anda ingin tau lebih banyak tentang program ini? Hadiri  OPEN HOUSE – PROGRAM PELATIHAN MANAGEMENT DAYCARE, hari Senin, 20 November 2017 jam 9.00-11.00 di Bintang Waktu Daycare, Jalan Cempaka Putih Tengah 27 No. 42, Jakarta Pusat

Untuk informasi dan resevasi, hubungi (WA Only) 0822-1615-6055 atau klik http://www.bit.ly/RadinaBooks

Advertisements
Categories: Event

SEMINAR PARENTING: ORANG TUA HEBAT, ANAK YANG HEBAT

ORANG TUA HEBAT, ANAK YANG HEBAT ‘Penerapan Metode Montessori dalam Pola Pengasuhan’

Bintang Waktu Daycare kembali mengadakan seminar parenting. Kali ini mengusung tema Orang Tua Hebat, Anak yang Hebat ‘Penerapan Metode Montessori dalam Pola Pengasuhan’. Kami mengundang praktisi handal di dunia parenting, Ibu Ratna Saputra,  Montessori Trainer  yang menjadi konsultan pendidikan Montessori di beberapa sekolah di Jakarta. Beliau pernah menjadi bagian pengelola Popay Montessori School Kelapa Gading dan pengajar di McGillivray Montessori, Winnipeg, Canada. Selain expert di bidang Montessori, beliau juga mendalami Hipnoterapi dan Kinesiology.

Bagi ayah bunda yang ingin mengenal lebih dalam tentang Montessori, wajib ikut seminar ini.

Insya Allah dalam seminar ini kita akan membahas lebih dalam lagi mengenai Metode Montessori, pola asuh, penerapan disiplin, penggunaan gadget serta mengembangkan minat dan bakat anak, yang akan diselenggarakan pada:

  • Hari/Tanggal : Sabtu, 08 April 2017
  • Jam : 09.00 – 13.00
  • Tempat : Gedung BPPT II, Jl. MH Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

HTM : 

  • Early Bird: Rp 140.000/peserta (s/d15 Maret)
  • Reguler: Rp 160.000/peserta (16 Maret – 5 April)
  • Pasangan: Rp 270.000
  • Kids Corner: Rp 35.000/anak (untuk anak kedua dst)

Fasilitas

  • Snack Box
  • Hand Out
  • Sertifikat
  • 1 seat Kids Corner, usia 2 -10th (untuk usia 0 – 24 bulan ananda di dampingi oleh pengasuh dari orang tua masing-masing)

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sofi 083876780708 atau Gege 087783089061

Categories: Event | Leave a comment

Sehari Kembali Jadi Anak Preschool di Bintang Waktu

Naya

Kegiatan Kelas Bintang Besar

Oleh: Suciana Widi Anggraeni

Jadi ceritanya kemarin, Sabtu (30/7) ada acara simulasi kegiatan kelas yang sebenernya sangat sangat dianjurkan diikuti oleh salah 1 wali murid (either ayah atau ibu lahh). Nah, saya ikutan tuh, kebetulan ayah Naya gak bisa kalau  hari sabtu. Kegiatan dimulai pk 08.30 -saya telat dikit karena masi nego Naya supaya gak ikut, emang anak gak boleh ikut supaya ortu fokus sama kegiatan ini, gak ada Kids Corner karena semua kelas dipake-

Pas sampe sekolah, saya buka pagar disapa hangat oleh bunda-bunda  seperti biasanya, tapi saya dipanggil : “Assalamualaykum Naya,  selamat pagi… Wah Naya udah berani yaa berangkat sekolah sendiri?” -ya kalee 😅😅 -…… Acara selanjutnya senam pagi, iyaaak senam beneran. Dan baris untuk antri masuk kelas, sambil dibacakan peraturan di dalam kelas oleh bunda guru. Dan para ortu pun ngikutin. Sedikit banyak tau lah karena Naya suka menyebutkan peraturan ini kalau  di rumah. Kemudian, berdoa sebelum belajar. Daaaannn yang paling asyik adalah Montessori Time!!! Semua ortu excited memgambil alat Montessori sampe ada yang lupa pasang alasnya hihiii…

Pantesan ya anak-anak betah banget di sekolah, karena kegiatannya sooooooo much fun. Kegiatan simulasi ini persis dilakukan sama anak-anak ketika sekolah. Yaa, kecuali yang daycare yaa, gak ada acara tidur siang -ya kaleee 😅😅 – ada snack time juga.

Sesi terakhir adalah sesi sharing ortu dan bunda guru. Dimana di sini diharapkan pengasuhan yang seiring sejalan kalau di rumah dan di sekolah. Di sekolah, anak terbiasa sangat mandiri. Main ambil alas, bisa melipat sendiri, waktunya makan bisa siap2 ambil semuanya sendiri, sampe selesai mereka yang inisiatif menaruh dan cuci tangan di tempatnya. Dan di rumah diharapkan pun begituu.

Indahnya…..

Dan di sekolah ini, bukan calistung prioritas utamanya. Karena sesuai fitrah anak yang sedang berkembang bagian-bagian penting dari semua organnya, semuanya pun dirangsang… Makanya sebenernya Montessori cocok bgt untuk anak usia dini. Karena “belajarnya” bener-benar sesuai dengan tahapan perkembangan anak..

Mba @kikau, kau rugiii tak datang kmrn hehe.. Masih belajar sih yaaak. Tp bunda nya kmrn kasih tau skrg anakmu lg main melulu sm naya. Krna mungkin sama2 “senior” bintang besar hihi..

Categories: Event | Tags: , , | Leave a comment

Seminar Parenting: Membaca Kepribadian Anak Melalui Coretan Gambar

images1Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, pada tanggal 12 April 2014 Bintang Waktu sukses menyelenggarakan seminar parenting yang bertajuk “Analisa Coretan Gambar Anak”. Pembicara kali ini adalah Ibu Apriyanti SPsi dari Pusat Studi Komunikasi Bawah Sadar.

 

Analisa coretan gambar anak (doodle) merupakan bagian dari ilmu grafologi Imu yang mempelajari pesan yang terkandung dalam coretan tangan manusia, baik tulisan maupun gambar. Walaupun masih dikategorikan pada pseudoscience, ilmu ini diyakini mampu mengkorelasikan pola-pola coretan yang dihasilkan tangan dengan kepribadian, karena merupakan manifestasi dari suatu bentuk penyampaian pesan dari bawah sadar seseorang.

 

Jenis sketsa menurut ilmu graphologi terdiri dari 4 macam, yaitu : lingkaran, kotak, segitiga, dan garis lekuk-lekuk. Berikut panduan dasar mengenai coretan gambar anak

 

  1. Gambar anak dominan lingkaran
  • Karakter anak ini penuh kasih sayang, cinta, suka memberi perhatian, sensitif, dapat melakukan interaksi sosial dengan baik, dan lainnya.
  • Cinta merupakan unsur penting dalam hidupnya dan minat akan kasih sayang merupakan kebutuhan terbesar bagi diri anak.
  • Umumnya kepribadian anak ini tertutup.
  • Minat dan bakatnya cenderung berhubungan dengan profesi kesosialan
  • Umumnya tidak suka permusuhan dan cenderung menjauhi sikap agresif, karena dia selalu mencari kedamaian, kasih sayang, dan persetujuan.

 

  1. Gambar anak dominan segitiga
  • Anak sedang labil, marah, kecewa, sehingga butuh perhatian lebih dalam.
  • Suka mengeksplorasi hal-hal yang baru, suka mendominasi pembicaraan
  • Biasanya karakter ini punya kemampuan memimpin yang bagus, cocok menjadi ketua kelas, kepala regu, pemimpin kelompok, dll.
  • Memiliki ketajaman berpikir dan pandangan yang kuat.
  • Sisi negatifnya, dia kerap tidak mau menerima masukan dari orang lain, suka memaksakan keinginan sendiri, selain juga sulit menjadi pengikut (follower).

 

  1. Gambar anak dominan segi empat
  • Sedang marah atau kesal, namun tingkatanya lebih rendah dibandingkan segitiga
  • Cenderung perfeksionis, konsisten, melakukan sesuatu dengan perencanaan matang, suka berolah raga
  • Penuh inovasi, berpikir secara logis, praktis, dan merupakan individu yang dapat diandalkan. Tata tertib dan disiplin adalah hal penting bagi mereka.
  • Negatifnya, terkadang apa yang dilakukannya sangat lambat.

 

  1. Gambar anak berupa coretan campuran dan dominan spiral
  • Jika coretan anak bercampur baur, ada bulatan, segitiga, segi empat, namun didominasi garis yang melengkung-lengkung, berarti anak butuh kebebasan dan eksplorasi diri
  • Dari sisi karakter, biasanya anak ini kreatif, mencintai seni, suka mengekspresikan sesuatu lebih terbuka, mencoba hal-hal baru, ekspresionis, dll
  • Sayangnya biasanya ia sulit diatur, keras kepala, semaunya sendiri, dll. Imajinasi merupakan motivasi utama dalam dirinya.
  • Umumnya ia adalah anak yang superunik dan jiwa seninya tinggi. Gagasannya sangat kreatif dan sulit diduga, berbeda dari orang kebanyakan.

 

Pesan dari Ibu Apriyanti:

“Bebaskan ia mencoret apa pun yang ia mau. Selagi ia melakukan kegiatan coret-mencoret, jangan memonitor atau memperhatikan, melainkan tinggalkan ia sendirian agar ekspresi emosi dan karakternya bisa keluar lebih maksimal.”

 

 Untuk informasi lebih lanjut mengenai analisa gambar anak atau pun ingin mengkonsultasikan kepribadian dan bakat anak anda melalui coretan gambar, bisa menghubungi :

 

Pusat Studi Komunikasi Bawah Sadar

Jln. Toar 1 Blok B4/11

Kel. Tugu Utara Kec. Koja

Jakarta Utara

Email. greenclinic@gmail.com

Categories: Event | Tags: , | Leave a comment

Teknik Mendisiplinkan Anak Secara Positif

disiplin4Siapa yang seumur hidupnya tidak pernah memarahi anaknya?Rasanya hampir tidak mungkin. Keluhan orang tua pada umumnya, anak mereka tidak menurut dan susah diatur. Rasa marah muncul akibat ketidaktahuan orang tua dalam “menguasai” anaknya. Bagaimana cara membuat anak disiplin tanpa membuat orang tua marah-marah?

Kali ini Bintang Waktu Preschool mengundang psikolog Anna Surti Ariani yang kerap disapa dengan Nina untuk berbagi kepada para orang tua tengang “Teknik Mendisiplinkan Anak secara Positif” pada tanggal 20 Oktober 2012. Menurut psikolog dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI dan Medicare Clinic Kuningan ini, idealnya orang tua memiliki pendekatan yang hangat, dekat dan penuh kasih saying, tapi juga bias tegas ketika mengatur. Aturan dibuat dengan kesepakatan bersama anak, bukan atas otoritas pribadi orang tua

Bagaimana cara mendisiplinkan anak yang membuat anak menurut tanpa menghilangkan harga diri anak?

  1. Perhatian positif (pujian)
  2. Pengabaian
  3. Kerja sama
  4. Tegaskan Batas
  5. Hukuman

disiplin3Dari kelima teknik tersebut gunakan Teknik Perhatian Positif (Pujian) sebagai teknik yang paling sering dilakukan, dan gunakan Teknik Hukuman sebagai teknik yang paling jarang dilakukan

1. Perhatian positif (pujian)

Lakukan sesegera mungkin ketika anak melakukan sesuatu hal yang positif, termasuk hal yang sekecil mungkin.Bentuknya bisa berupa “pengumuman ke penjuru dunia”, hadiah kecil atau token system (good behavior chart).Hal yang penting ketika melakukan ini adalah orang tua melakukan kontak mata dengan anak, menunjukka ekspresi yang menyenangkan dan intonasi suara yang ramah. Pujilah tindakannya, bukan anaknya

2. Pengabaian

Hal ini bisa dilakukan untk perilaku anak yang kurang orang tua setujui tapi masih bisa ditoleransi.Teknik ini hanya bisa berhasil bila diikuti pujian segera ketika anak melakukan hal baik. Pastikan orang tua melakukannya segera setelah anak melakukan perilaku tersebut, tidak melakukan kontak mata, ekspresi wajah yang datar, tidak mengeluarkan kata-kata dan posisi tubuh tidak menuju ke anak

Bentuk lain dari pengabaian ini adalah orang tua melakukan hal lain ketika anak sedang bertingkah, berbicara hal lain ketika anak sedan g bertingkah atau teknik broken record

Metode broken record ini cocok untuk anak berusia 2-2,5 tahun tapi tidak untuk yang berusia 4-5 tahun ke atas. Caranya adalah mengulangi kata-kata yang sama berkali-kali sampai ia menurut apa yang kita kehendaki. Kuncinya adalah ekspresi yang datar dan kata-kata yang sama. Misalnya menyuruh anak mandi, “Nak, mandi nak…” bila ia bilang tidak mau, terus kata-kata “Nak, mandi nak…” diulang berkali-kali sampai akhirnya anak menyerah untuk bergerak masuk ke kamar mandi. Tetapi ada kemungkinan anak melakukannya dengan kesal

3. Kerja sama

disiplin1Teknik ini dapat diterapkan pada anak usia 3-4 tahun ke atas ketika anak sudah mulai belajar untuk berpikir logis. Targetnya adalah melakukan kesepakatan dengan anak, dimana keputusan dibuat oleh anak dengan sedikit negosiasi dari orang tua.

Bentuknya antara lain sebagai berikut:

  • Berikan pilihan yang sudah orang tua seleksi sebelumnya. Misalnya “Adek mau pake baju yang mana, yang merah atau yang biru” sambil menunjukkan kedua baju tersebut. Cara ini selain membuat anak disiplin, sekaligus melatih anak untuk mengambil keputusan sendiri. Anak yang sudah dapat membuat keputusan sendiri, cenderung tidak akan melanggarnya
  • Teknik Berhitung. Misalnya, “Ayo mainnya bergantian, nanti kalau mama hitung sampe 5, abang tukeran sama adek ya.” Teknik ini sekaligus melatih kepekaan anak terhadap angka. Biasanya semakin besar anak, maka anak akan menawar angka yang lebih besar, seperti 10, 34, 46 dst J
  • Teknik Jam Dinding. Misalnya, “Abang boleh main game sampe jarum panjang di angka 12 ya.” Anak belum mengenal hal yang abstrak, sehingga jangan gunakan kata-kata “5 menit lagi ya.” Jangan lupa gunakan jam dinding/arloji dengan jarum jam, bukan digital. Akan lebih mudah bagi anak untuk mengkalkulasi waktu
  • Teknik Kalender. Misalnya, “Nanti kalo sudah tanggal 17, botol dot-nya kita buang ya.” Hal ini berlaku kepada anak yang sudah bisa membaca angka. Caranya anak diajak untuk melihat kalender setiap hari, beberapa hari menjelang hari yang ditentukan. Untuk menentukan tanggal ini pun, anak dapat bernegosiasi. Biasanya anak akan lebih patuh dan mudah melaksanakannya pada hari H bila mereka sendiri yang menentukan tanggalnya
  • disiplin2Jika A maka B. Misalnya “Kalau adek cepat mandinya, nanti kita bisa segera jalan-jalan” Gunakan kalimat positif untuk mendapatkan hal yang menarik ketimbang “Kalau adek mandinya lama, nanti kita lama deh kita gak bisa pergi. Otak manusia (baik dewasa, apalagi anak) cenderung tidak dapat menampung kata-kata negatif, sehingga pesan yang diterima oleh anak adalah ia harus mandi lama agar lama tingga di rumah
  • Buat perjanjian tertulis. Tentunya bagi anak yang sudah mengerti membaca. Akan lebih “keren” lagi bila perjanjian itu ditandatangani kedua belah pihak (minimal anak membubuhkan namanya di sana), sehingga anak merasa seperti layaknya orang dewasa
  • Good Behaviour Chart Chart dengan gambar dan warna yang lucu-lucu dapat anda download dari internet. Misalnya, “Kalau Aa bangun jam 7 tiap pagi, dapat 1 bintang. Kalau dapat 10 bintang, bisa Aa tukarkan dengan 1 buah mobil mainan.” Teknik ini sangat powerful, tetapi banyak juga yang menentangnya, termasuk diantaranya Maria Montessori. Menurut Montessori, teknik ini tak ubahnya menjadikan anak seperti seekor hewan sirkus yang mau melakukan sesuatu dengan iming-iming makanan. Dalam kasus di atas, anak akan kehilangan makna pentin gnya bangun pagi, melainkan hanya ingin mendapatkan mobil mainannya saja

4. Tegaskan Batas

Teknik ini dilakukan sesegera mungkin dengan melakukan kontak mata dan ekspresi wajah yang tegas, bukan marah.Gunakan kata-kata singkat dan padat, dengan intonasi yang tegas.Gunakan dengan kata perintah. Bila belum berhasil, gunakan perintah berulang (broken record), peringatan akan konsekuensi negatif (cabut haknya untuk bermain/menonton) atau time-out (disetrap maksimal 1 menit untuk tiap tahun usia anak, lakukan di tempat aman dan di tempat yang sama untuk setiap time-out).

Hati-hati bila melakukan time-out, jangan sampai anak merasa harga dirinya direndahkan

5. Hukuman

disiplin5Lakukan sesedikit mungkin dalam hal ini.Menghukum dalam hal ini adalah mencabut haknya, dengan memberikan konsekuensi negative atas perlakuan negatifnya.Misalnya, “Kalau kakak pukul mama sekali lagi, nanti sore kakak tidak boleh nonton TV ya.”Bila anak melakukan, segera lakukan konsekuensi tersebut, bila anak menangis, gunakan teknik mengabaikan.

Dalam menghukum anak, orang tua tidak boleh menggunakan kata-kata negatif, marah apalagi hukuman fisik seperti memukul, mencubit dll

Penerapan kelima teknik tersebut di atas, tentunya bukan lah proses yang instan yang membuat anak langsung menerima. Perlu kesabaran dan konsistensi dari orang tua untuk membuat teknik-teknik ini berhasil.

Bila anda memiliki pengalaman seputar teknik mendisiplinkan anak, silakan tinggalkan komentar di kolom “reply”

Categories: Event | Tags: , , , , , , , , , | 1 Comment

Mendidik Anak Sesuai Fitrah

Setiap anak dilahirkan dengan jiwa yang tulus, orang dewasa yang menghilangkan ketulusan itu

Setiap anak dilahirkan dengan mental mandiri, orang dewasa yang membuat mereka jadi suka bergantung

Setiap anak dilahirkan dengan kesukaan akan keteraturan, orang dewasa yang membuat mereka jadi suka berantakan

Setiap anak dilahirkan dengan kecintaan untuk belajar, orang dewasa yang membuat mereka jadi malas belajar

Jadi, dimana salahnya?

Hal ini lah yang didiskusikan dalam seminar yang diselenggarakan oleh Bintang Waktu Islamic Preschool & Daycare, Sabtu 21 April 2012, dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan baik oleh guru maupun orang tua. Sabda Nabi SAW “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah”, tentunya sudah sering kita dengar. Tetapi bagaimana sebenarnya fitrah anak itu dan bentuk pendidikan seperti apa yang sejalan dengan fitrah anak? Dengan mengundang ibu Sri Rahayu, seorang praktisi pendidikan berbasis metode Montessori, seminar kali ini berusaha mengenal fitrah seorang anak dihubungkan dengan pendidikan metode Montessori.

Maria Montessori (1870-1952), seorang ahli pendidik asal Italia, menjabarkan fitrah seorang anak sebagai suatu tahap perkembangan anak yang disebut periode sensitif. Periode sensitif mengacu pada kepekaan seorang anak yang muncul karena adanya dorongan tertentu. Misalnya saja, kenapa seorang bayi baru lahir yang ditaruh di tubuh ibunya dapat bergerak ke arah puting ibunya dan mengisap tanpa seorang pun mengajarinya? Ini lah salah satu contoh sensitifitas seorang anak. Periode sensitif ini adalah blueprint yang dibuat oleh Sang Pencipta. Bila periode sensitif ini hilang, maka kesempatan itu tidak datang lagi.
Salah satu periode sensitif yang berlangsung pada anak adalah periode sensitif pada keteraturan. Anak menyukai hal yang teratur, konsisten dan repetisi. Bila anak rewel atau tantrum, pastinya ada suatu keteraturan dalam diri mereka yang terganggu. Dalam keadaan seperti ini lah orang tua atau pendidik harus mampu mencermati keteraturan apa yang mengganggu mereka

Umumnya orang tua menyimpan mainan anak ke dalam kotak mainan. Ketika anak membongkar kotak mainannya untuk mencari sesuatu, pengasuh atau ibulah yang membereskannya. Bila kita mengikuti periode sensitif anak pada keteraturan, sebaiknya menyusun mainan di atas rak terbuka menurut jenisnya. Penataan lingkungan yang rapi dapat membantu anak mendefinisikan keteraturan. Melibatkan anak untuk mengembalikan barang yang habis dipakainya juga akan membantunya memahami suatu urutan (sequence)

 

Categories: Event | Tags: , | Leave a comment

Islamic Hypnoparenting Seminar

This slideshow requires JavaScript.

Pada hari Sabtu, 15 Oktober yang lalu, Bintang Waktu menyelenggarakan seminar parenting dengan tema Islamic Hypnoparenting Seminar. Bertempat di aula Perum Pegadaian Kramat Jakarta, acara ini dipandu oleh Wasmin Al-Risyad, seorang Certified Hypnotherapist dari Biro Konsultan Psikologi Mata Hati, Bandung. Acara ini dihadiri oleh 37 peserta dan didukung oleh makanan organik Melilea dan Asuransi Takaful Keluarga

Dalam seminar ini, peserta diajak untuk menyadari kekuatan kata-kata dan pikiran bawah sadar dalam perubahan perilaku anak, salah satunya dengan cara selalu menggunakan kata-kata positif pada anak. Misalnya mengganti kata-kata “Jangan nakal” dengan kata-kata “Jadi anak sholeh” atau “Jangan ribut” menjadi “Boleh bicara tenang”. Otak manusia tidak diciptakan untuk menerima kata “Tidak” atau “Jangan”. Sehingga ketika kita menyebutkan “Jangan nakal”, maka yang tertanam di otak anak kita adalah “menjadi nakal”

Dalam kondisi normal, 88% otak kita dikuasai oleh pikiran alam bawah sadar. Namun sayangnya, pikiran alam bawah sadar ini yang jarang kita kelola dan optimalkan. Dalam sesi hypnotherapy ini, peserta diajarkan bagaimana caranya untuk mengelola pikiran alam bawah sadar anak, untuk merubah perilakunya yang selama ini kurang sesuai, salah satunya dengan teknik hypnosleep menjelang bangun dan menjelang tidur. Peserta juga diberi kesempatan untuk belajar hipnotis dengan berpasang-pasangan.

Acara yang digelar dari jam 8.30-16.00 ini disambut positif oleh peserta, terbukti dengan antusiasnya sesi tanya jawab dan rekomendasi para peserta untuk sesi seminar hypnoparenting berikutnya. Insya Allah suatu hari dapat kami selenggarakan lagi.

Categories: Event | Tags: , , , | Leave a comment

Create a website or blog at WordPress.com