“Bagaimana memahami Anak Dengan Pendekatan Montessori”

Oleh : Kaukabus Syarqiyah

13 November 2016

kikauHaiii ini sharing gw sebelum tidur yaaah..resume acara wajib di sekul natsa. Basis skul nya pake montessori islami.

“Bagaimana memahami anak dengan pendekatan Montessori” (ada soal picky eater juga, tapi realnya ditulisa bukan hanya soal montessori yaa. Bahkan ada anatomi tubuh sedikit)
Silakann di share klo mau, jangan ubah sumber dan tulisan. Capek bok ngetiknya. Okeh!

Oleh Ratna Saputra
Pakar Montessori, Pengajar di McGillvray Kanada dan Pengelola Popay Montessori Kelapa Gading
(Sekarang beliau ada klinik konsultasi di daerah Gunawarman Blok M)
Disarikan bebas dan ditambah komen2 oleh: Kaukabus Syarqiyah

Anak ibarat gelas yang di isi oleh orangtuanga. Anak mendengarkan, anak menuruti orang tuanya akan tergantung pada gelas tsb.

Apakah gelas itu bocor bawahnya atau tidak. Jika kita sebagai orang tua, tidak menerapkan kasih sayang dan pondasi yang kuat pada anak, maka sebanyak apapun kita memberi limpahan materi dan pengajaran, maka anak akan ibarat gelas yang bocor bawahnya.

Dan seiring waktu, gelas yang tidak ditangani akan bocor juga kanan kiri nya dikarenakan lingkungan.

Dan bukan masalah otak anak akhirnya mereka tidak berhasil. Namun masalah kenyamanan. Apakah anak selama ini mendengar hal yang baik? Apakah anak slama ini melihat hal yang baik?

Mata dan Telinga di masa tumbuh anak memiliki peranan sangat penting. Suatu pondasi dasar. (Klo dalam Islam, artinya anak dibiasakan mendengar ucapan yg baik, seperti alquran, murottal dll. Mata pun mrlihat akhlaq kita yang baik atau tontonan yang baik. Klo TV dan gadget bagi bu ratna juga ga sama sekali perlu sih hihi. Dan kata bu Ratna, keluhan mata, bisa menjalar efeknya sampai ke Tumor Batang otak )

Panca indra itu berpengaruh dalam kehidupan pembelajaran dan harus dilatih. Semua syaraf harus diaktivasi oleh anak dengan full komitmen dari orang tua. Misal: Jangan biasakan anak yang sudah bisa jalan untuk selalu di gendong. Karena efeknya, ada syaraf yang nantinya tidak berkembang dgn optimal.

Kasih sayang adalah obat bagi anak.
Ibu itu pada dasarnya tidak berkorban bagi anak-anak, adalah hak anak untuk mendapatkan kasih sayang.

Anak special needs terkadang bukan benar-benar special needs. Tapi karena salah pola asuh. Jika ada gerakan2 anak yang belum sampai pada seusianya, dan kita sebagai ortu kesal dan mengeluhkan anak maka kesalahan tersebut pada dasarnya ada di orang tua.

Semua gerakan2 anak pada dasarnya adalah karena kita, orang tuanya. Karena dari janin pun, janin sudah bergerak 360 derajat dan mengelilingi smua spot dalam kandungan ibunya. Dengan mercusuarnya adalah jantung sang ibu. Jantung ibu di dalam janin adalah hal yang membuat si anak terus berjuang, hal yang membuat si anak merasa dikasihi.

Jadi dalam hal apapun, apalagi jika anak msh balita dan berbuat kesalahan, jangan langsung salahkan anaknya. Lihat ayah ibunya. Selalu orang dewasa yang memiliki peran.

Yang akan gw tulis ini agak sedikit menyentil (ojo baper yo), dan buat gw sndr pun, jadi reframing. Dan gw sndrpun ngalamin ini meski alasannya medis hihi

Jika kita melahirkan caesar, minta maaflah dengan anak anak kita. apalagi yang caesar bukan karena indikasi gawat darurat medis. Karena ketika caesar, ada proses alamiah yang tidak dialami anak. Proses ketika anak menyuruh ibunda mules mencari jalan keluar. Proses kerjasama anak dan bunda ketika anak melewati tulang rawan ibu, proses banyaknya gerakan anak yang terjadi dll.

Lanjuut..dalam otak ada bagian yang sangat penting. Yaitu Primary Motor Cortey (M1). Dan semua yang penting ada disini. Yaitu : gerakan.

Klo anak tidak banyak bermain. Tidak banyak bergerak. Tidak banyak aktivitas kreatif maka akan meningkatkan hormon stress (btw, ini di org dewasa juga berasaa yess). Dan hormon stress (kortisol) yang naikkk akan mengakibatkan banyak hal pada anak.

Bagaimana memaksimalkan potensi yang ada:

1) waktu
2) kasih sayang
3) kesempatan
4) fasilitas sbg wadah anak untuk mengeaktifkan sluruh panca indranya. Dan ini akan sangat mempengaruhi keberhasilannya kedepan.

Ajak anak bermain keluar. Biarkan ia kena sinar matahari scara cukup. Jangan habiskan waktu di Mall. Karena Mall di Indonesia, segala rupa penyakit anak ada. Sistem sirkulasi udaranya masih buruk.
Meski anak hanya ke taman yang sama tiap pekan, anak pasti akan belajar. Belajar soal suara, belajar soal sebab akibat, belajar soal sudut penglihatan dll.

Hal yang perlu diperhatikan orang tua pada indra anak:
1. Penglihatan
2. Pendengaran
3. Perasa
4. Penciuman
5. Penyentuhan
6. Reflex bayi. Manfaatkan momen momen tertentu bayi.

Contoh: sedari kecil biarkan anak untuk memakai sepatu sendiri. Kita arahkan tapi biarkan mereka sndiri (dan makanya, klo di montes, anak 1.5 tahun udah makan sndr, ga pakai disuap2in. Abis main, mainan dirapiin sndr, sepatu di taruh sndr sesuai nama. Sedari kecil banget. Karena panca indra harus di aktifkan)

Sistem pembelajaran kita pada anak kerap kali hanya MEMBERI TAHU. Tidak menyontohkan, tidak melihat sendiri. Kerap kali kita ingin anak kita spt anak-anak kebanyakan. Padahal setiap anak memiliki potensinya sendirisendiri.

Pada dasarnya, kita seperti pemanah, yang fungsinya melesatkan sang anak sesuai dengan misi dari Allah. Kita beri anak kita segala kekuatan untuk menghantarkannya ke masa depan. Namun bagaimanapun, anak adalah milik jamannya. Kita tidak bisa melesatkan anak panah tsb dgn mengikutinya slalu.

Memiliki anak dengan usia 0-7 tahun memang setengah mati susahnya. Namun akan worth it jika kita telaten. Anak umur 0-7 tahun pada dasarnya butuh KETERATURAN dalam hidup. Ibu dan ayah tidak boleh males (ini gw capslock sbg reminder buat gw yang kerap kali mengabaikan hal ini).

Anak jaman sekarang yang kerap kurang dimiliki adalah: Komunikasi dan unconditional love dari org tua. Sebagai ortu, jangan hargai anak sbagai objek. Anak adalah psikolog no.1 dan aktor no.1. Bisa berbuat menyebalkan bagi mama namun sangat menyenangkan di depan papa. Belajarlah dari dia. Dari anak-anak. Agar kita mengerti bagaimana menghadapi dia.

Bagaimana dengan menerapkan peraturan? Maka sbg ortu:

1. Harus konsisten
2. Jangan memperlihatkan panik

Contoh: anak sudah dilarang main dan jatuh. Maka kepanikan ortu ttp jangan diperlihatkan. Atau misal, sehari anak melanggar kesepakatan 50x, jangan hanya karena anak berbuat baik 2x kita jadi melunak dan tidak mengingatkannya.

Kurangi kata-kata berikut:
1. Pokoknya
2. Nah
3. Makanya
4. Tuh kan

Soal masalah sex diremaja saat saat ini:
1. Keluarkan energi anak dengan hal hal yg berbau olahraga.
2. Narkoba, sex, suka bantal dr bayi dll jika kecanduan sama titik bahanya. Dan ini menandakan kurangnya unconditional love. Anak umur 9-15 tahun adalah anak dengan masa paling labil
(Jadi deg2an anak menuju abg hehhe. Dan ntw, pantessssss rasulullah sayang bangettttt ama anak yatim yah atau yang kehilangan ortu. MasyaAllah..)
Samakan juga persepsi anak dengan persepsi orang tua.

Anak PickyEater:
Okee..yang akan gw tulis ini mungkin capek yaa dikerjain klo pas anak lg pilih2 makan..cuma..ternyata efek baiknya panjang.
Klo anak picky eater, cari kenapanya. Coba deh bayangin..klo kita lagi stress, sedih, mau makan ga? Males kan. Biasanya anak bgitu juga. Jadiii buat rilex anak. Buat permainan dulu soal makanan. Main tebak2an misalnya. Yang jelas jangan diomelin dulu hehe.

Ada beberapa materi lagi, soal pijit yang bikin ga stress ke anak..tp susah diketik, jadi pass aja dulu yah. Klo ketemu aku praktekin hihi.

Dan terakhir..anak itu dah rela berkorban loh buat kita. Saat anak capek seharian main, tp ketemu kita masih rela relain ketawa. Jangan jadikan anak sbg pelengkap penderita. Pelampiasan di saat hati marah atau gelisah. Bukan dia yang milih punya orang tua seperti kita. Sudah ketentuan Allah. Pun boleh milih, mungkin ia pun ga mau milih kita.

Buat list kesalahan kita sbg ortu. Dan minta maaflah sama anak kita. Hiks.
Akhirul kalam, semoga bermanfaat yes ketikan sayah

Advertisements
Categories: Berita | Leave a comment

Post navigation

Tinggalkan komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

%d bloggers like this: